Pantaskah Kita Berbeda ?
Ini adalah pandangan saya, mengenai perdebatan tentang perbedaan agama yang kian marak dari hari ke hari. Mari kita bebas bertanggung jawab dalam berpendapat.
Terus terang, saya heran. Ketika akhir-akhir ini, saya seringkali membaca Koran dan melihat siaran televise, saya menyaksikan berbagai kejadian negative berkaitan dengan perbedaan, khususnya perbedaan agama. Saya paham dan mengerti bahwa sebenarnya memang kasus-kasus seperti ini sudah seringkali terjadi di tanah air, bahkan bukan hanya terjadi di sini, melainkan dunia luar pun lebih sering mengalami. Seperti kasus perebutan Israel-Palestina, yang menurut saya sudah di luar ambang batas dari harkat dan martabat manusia sebagai makhluk berakhlak yang saat ini tak kunjung reda. Saya mengerti pula, perdebatan mengenai perbedaan agama merupakan hal yang sangat sensitive, sekali kita ngawur dalam berpendapat, tentunya hal itu akan berdampak buruk di waktu yang akan datang. Oleh karena itu, saya akan menyampaikan beberapa titik pandang saya mengenai perbedaan agama, dengan senetral dan sebijak mungkin. Dan saya berharap, para pembaca dapat mengerti apa yang akan saya sampaikan dan tidak menimbulkan multi-tafsir. Semoga pendapat-pendapat saya juga dapat memberian pencerahan, tentang apa yang sebenarnya terjadi saat ini, dan solusi terbaik apa yang harus kita berikan untuk menyelesaikan masalah yang tak kunjung reda ini.
Saya akan memulai dengan menganalisa Indonesia terlebih dahulu. Jauh waktu sebelum Indonesia terbentuk, dimana terdapat kerajaan hindu dan budha terbesar di Asia Tenggara, yakni Majapahhit dan Sriwijaya, masyarakat hidup sejahtera, katanya. Nenek moyang kita yang dulunya masih meyakini animisme dan dinamisme, mau dan tertarik untuk bergabung mengikuti ajaran – ajaran Hindu dan Budha. Hal ini tentu tak menjadi masalah, karena nenek moyang kita mau dan dapat menyeleksi nilai-nilai dari kedua agama tersebut, untuk dijadikan pedoman hidup yang baik, dan untuk memenuhi kebutuhan spiritual. Dari sinilah masyarakat kita mengenal hal apa yang baik untuk dilakukan, dan haram untuk dilakukan. Dari sini pula, nilai-nilai luhur pancasila mulai terbentuk. Saya yakin apabila agama hindu dan budha tidak pernah menyentuh bumi Indonesia di masa lalu, bisa saja mungkin Indonesia adalah Negara komunis saat ini, dengan warga Negara ateis, yakni tidak percaya dengan adanya Tuhan. Maka mulai saat ini, hargailah penganut agama hindu dan budha. Mereka tidak berbeda halnya dengan kita yang bukan beragama hindu dan budha, mereka adalah bagian dari builder nilai-nilai moral yang baik, sehingga kita sebagai keturunan Indonesia pun dapat menikmati buahnya, yakni pancasila itu sendiri.
Bukan hanya agama hindu dan budha yang pernah masuk ke Indonesia. Begitu pula agama Islam dan Kristen. Perkembangan agama islam begitu pesat tumbuhnya di Indonesia bagian barat, sedangkan ajaran Kristen mendapatkan sambutan hangat di Indonesia bagian timur. Lalu, apakah hal ini merupakan sebuah masalah? Dimana agama Islam dan Kristen menyebabkan Indonesia terpecah menjadi dua bagian besar? Jawabannya: Tidak. Mari kita menganalisa dari berbagai sisi, sebelum memberikan suatu pendapat.
Mari kita melihat dari aspek ajaran Islam terlebih dahulu, yang berkembang begitu pesat melalui perdagangan dan perkawinan raja-raja di pulau Jawa dan Sumatera. Jika anda pernah belajar mengenai sejarah, atau anda merupakan sejarawan, tentu anda paham dan mengerti bahwa kerajaan-kerajaan di Indonesia selalu berusaha untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Ketika Masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit habis, nilai-nilai baik yang dimiliki masyarakat mulai luntur akibat kehilangan “sosok” yang turut hilang mengikuti habisnya kejayaan kerajaan. Masyarakat berada dalam masa transisi kepercayaan, dimana nilai-nilai buruk yang dimiliki masyarakat kembali kambuh karena hilangnya “sosok” itu tadi. Perjudian terjadi dimana-mana, suami-suami mulai selingkuh, begitu juga para istri. Masyarakat kembali meminum arak dan mabuk-mabukan. Hal ini merupakan ancaman besar bagi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, dan sekali lagi, sebuah kepercayaan datang sebagai sebuah solusi. Ya, agama islam masuk dan berkembang pesat, karena masyarakat mengerti, bahwa ajaran-ajaran agama islam, menuntun kearah kehidupan yang lebih baik. Ajaran-ajaran islam meyakinkan masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa dan Sumatera untuk kembali hidup dengan baik dan benar seperti sedia kala. Hal ini merupakan titik penting, dimana jika agama Islam tidak pernah masuk ke Indonesia, besar kemungkinan, kita tumbuh dan berkembang dalam situasi non-kepercayaan, atau tegasnya, ateis. Oleh karena itu, berbahagialah anda yang menganut ajaran-ajaran islam, namun tetap menghargai kepercayaan-kepercayaan agama lain karena pada intinya hanya ada satu maksud. Yakni mendidik masyarakat Indonesia menjadi bermoral dan berakhlak baik.
Lantas, apa yang terjadi dengan pengaruh agama Kristen? Agama islam dibawa oleh pedagang ke pusat dagang asia tenggara, yakni pulau Jawa dan Sumatera, sedangkan ajaran Kristen dibawa menuju ke daerah penghasil rempah-rempah, Indonesia bagian timur oleh Spanyol dan Portugis. Saat itu, kondisi Indonesia timur sedikit lebih parah. Karena ajaran agama hindu dan budha yang dibawa oleh pengaruh Sriwijaya dan Majapahit tidak begitu banyak berbicara di Indonesia bagian timur, karena jarak yang cukup jauh. Masyarakat belum memiliki dasar nilai moral yang baik, masih meyakini animisme dan dinamisme, tidak ada patokan pasti terhadap pedoman berperilaku yang baik di Masyarakat. Tipu menipu juga marak terjadi diantara pedagang rempah-rempah, perang antar suku pun menjadi hal yang lumrah karena masyarakat masih belum mengerti apa itu perdamaian. Sama seperti ketiga agama yang lainnya, sebuah ajaaran / kepercayaan datang sebagai sebuah solusi. Kristen yang mengajarkan kasih dapat meresap dengan baik ke dalam nilai-nilai masyarakat. Perilaku-perilaku buruk mulai sedikit demi sedikit tereduksi seiring dengan berkembangnya ajaran Kristen. Oleh karena itu, penghujatan-penghujatan antar agama yang sering terjadi saat ini, hanya dilakukan oleh orang-orang yang tak beragama, dan tak memiliki pedidikan. Oleh karena itu, hargailah para penganut ajaran Kristen, karena mereka adalah sama dengan kita. Hindu, Budha, Islam, dan Kristen merupakan pondasi-pondasi penyusun pancasila dalam kesatuan Negara Indonesia saat ini, jika saja satu komponen hilang, nisacaya tidak akan pernah ada yang namanya “Negara Indonesia”, tidak akan pernah ada yang namanya pancasila.
Sejarah memang begitu Indah untuk dipelajari dan dijadikan pelajaran. Nah, kita pasti bertanya-tanya, siapakah sebenarnya yang memulai api perselisihan antar agama di Indonesia? Apakah itu islam? Apakah yang memulai Kristen? Atau yang memulai Hindu? Atau malah budha? Banyak pendapat, banyak jawaban, tapi hanya ada sedikit jawaban yang didasari oleh pendidikan dan rasa cinta kasih terhadap sesama. Dalam pandangan saya, agama tidak pernah salah. Manusia yang seringkali salah menafsirkannya, manusia terlalu percaya diri dan sombong akan kemampuannya untuk menafsirkan ajaran-ajaran suci ini. Ditambah pula, masa lalu penjajahan yang dilakukan oleh belanda memberikan paradigm buruk antara masyarakat Indonesia barat dan timur. Masyarakat Timur merasa, Karena belanda adalah pemasok rempah-rempah mereka ke pasar perdagangan, orang-orang Indonesia barat terlalu kejam dalam mematok rendahnya harga rempah-rempah, yang diartikan oleh masyarakat Indonesia Timur sebagai “Islam itu kejam”. Sedangkan masyarakat Indonesia barat merasa, bahwa Penjajahan yang dilakukan oleh belanda, merupakan refleksi dari “Kristen itu sesat”. Politik adu domba belanda inilah yang berhasil mencuci otak masyarakat kita. Mulailah terjadi perselisihan dalam menentukan siapa yang paling benar, Karena semua memiliki alasan yang kuat untuk membenci satu sama lain. Sadarlah, hai kalian yang menjadi militant agama kalian masing-masing. Apakah kalian benar-benar sudah berpikir matang-matang sebelum berpendapat?
Melihat analisis tersebut, saya kembali berfikir. Bagaimana cara mengembalikan pola pikir masyarakat agar dapat kembali netral dan memegang teguh perdamaian? Saat ini saya melihat, ketika kita yang menganut Islam menyalahkan orang-orang Kristen karena tidak mau Shalat, dan kita yang beragama Kristen menyalahkan orang-orang Muslim karena tidak mau mengakui ajaran suci Kristen, sebuah fase yang buruk, dimana fase itu akan terus berputar dan kembali. Ibarat kebusukan yang terus disimpan, mempengaruhi kehidupan masyarakat, dan perselisihan terus terjadi. Pertanyaan tentang siapa yang salah dan siapa yang harusnya bersalah terus menghantui pemikiran saya.
Saya tercengang ketika mendengar sebuah kata bijak:
“You can’t choose where you are from, but you can choose where’ll you go to”
Ya, kita tidak dapat memilih kita dilahirkan dimana, karena itu semua merupakan takdir dan kehendak Tuhan yang Maha Esa itu sendiri. Lalu, pantaskah kita mencela-celakan agama lain? Karena sebenarnya dimana kita dilahirkan akan mempengaruhi pola pikir kita sendiri. Contohnya, anda yang saat ini beragama islam, pernahkah anda menyadari, apabila anda dilahirkan bukan di keluarga muslim atau lingkungan yang mayoritas muslim, akankah anda menjadi seorang muslim? Apabila anda dilahirkan di keluarga Kristen di Spanyol (terkenal sebagai Kristen taat/kuat), apakah anda akan menjadi seorang muslim? Begitu pula sebaliknya, anda yang beragama Kristen, apabila anda dilahirkan di kelurga Islam di Arab apakah nantinya anda akan menjadi seorang kristiani? Sudah jelas terlihat disini. Memeluk kepercayaan yang berbeda bukanlah sebuah kesalahan. Perbedaan ini sudah diatur oleh Tuhan yang Maha Esa. Sadarkah sebenarnya saat ini kita membuat Tuhan kita beredih? Dimana agama yang harusnya menjadi terang yang mengidupkan malah menjadi terang yang membutakan hati manusia. Tinggal bagaimana kita menjaga perdamaian dalam perbedaan yang indah ini. Bagaimana kita dapat bekerja sama sebagai manusia yang mulia seutuhnya. Ini hanya tentang bagaimana kita mewujudkan perdamaian yang seutuhnya, karena perdamaian tidak berarti semua harus sama. Perbedaan itulah yang membuat dunia ini semakin indah, dan akan lebih inda apabila kita sebagai manusia dapat hidup dalam damai dengan sesame kita. Masih pantaskah kita menghina agama lain? Masih pantaskah kita disebut sebagai “pemercaya” Tuhan kita masing-masing apabila kita hanya menciptakan permusuhan?
Nah, jadi setiap informasi yang kita dapatkan, harus kita pikirkan, kita pilah dan saring satu per satu, jangan ditelan mentah-mentah, begitu juga ajaran agama kita masing-masing. Jangan begitu percaya diri dalam menafsirkan Ajaran Tuhan karena tidak ada manusia yang sempurna.
Oh iya, mendengar kasus lurah di Jakarta, yang terancam tidak jadi diangkat karena perbedaan agama, dimana kafir tidak boleh menjadi seorang pemimpin, (pendapat pak Amien Rais), silakan bapak Amien Rais membaca refleksi ini, dan dapatkah beliau menjawab pendapat saya yang terakhir, tentang “dimana kita berasal”, akan kah beliau tetap berpendapat seperti itu? Terimakasih. Salam damai bagi kita semua.
Comments
Post a Comment