Skip to main content

A side-note for myself.


I should realize that growing older and growing wiser is 2 different things, but it matches each other.
Semakin kita dewasa, semakin banyak hal baik atau buruk yang terjadi pada kita. Itu hal normal, semua orang mengalami hal yang kurang lebih intinya sama; kegagalan, kekecewaan, dan patah hati. Bertambah tua itu pasti, tapi menjadi lebih dewasa, itu pilihan. Hal-hal yang terjadi pada kita, bisa jadi diluar kendali kita, tapi pengaruh dapat kita control dengan respon dari diri kita. Senang atau sedih, kita punya kendali penuh untuk hal itu.
Kebetulan pernah baca, rumus kebahagiaannya Mo Gawdat Happiness is equal to or greater than the events of your life minus your expectation of how life should be. The event in which sometimes we can’t control, but we do fully control our expectation. Semakin dewasa, semakin banyak hal yang kita ketahui, semakin mengecil lingkaran interest kita, dan semakin besar ekspektasi kita akan hidup yang kita jalani. That’s hurt, really, hurt a lot. Indikasinya: kita susah bahagia, lebih banyak mengeluh dan sering membangdingkan hidup kita dengan orang lain.
Saya bahkan tau, dengan mengontrol ekspektasi saja, kebahagiaan dapat kita dapatkan. Tapi nyatanya, saya masih sering tidak lakukan. Menjadi dewasa itu pasti, tapi menjadi bijak itu memang pilihan yang sulit.

Kedua,
We will never know how someone feel until we’ve been in their shoes. Terutama masalah depresi. Depresi itu kedengarannya hal yang konyol, kekanak-kanakan dan sangat tidak dewasa. Hal yang sangat tidak keren (re: depresi) yang kita selalu piker bahwa kita bisa ngehindarin itu. Meskipun saya bukan psikolog, tp menurut saya depresi merupakan hal yang tidak bisa kita control. Depresi itu ibarat seperti demam- akibat system imun tubuh yang sedang berjuang buat menangkal penyakit. Ada orang yang demamnya cepat turun, ada yang berhari-hari baru sembuh. So does depression, I think.


Ketiga, nulis, ngomong, itu masalah yang gampang. Kalau diperhatikan lagi, sebenarnya poin pertama saya tadi totally full of bulshits, sedangkan point kedua full of concern. Ketika poin kedua kita rasakan secara pribadi, setiap orang mungkin akan mengalami pengalaman yang berbeda, tetapi, dan akan belajar bahwa pada akhirnya,bertambah tua itu pasti, dan menjadi lebih bijak itu pilihan yang sulit.(un-edited).

Comments

Popular posts from this blog

Political Interview at Sukowoyo Village :) (PART 1)

Actually it must be nothing to do when day is Saturday except Community Services. Fortunately we were doing a strange tasks from Mr. Wid on a nice Saturday, at 1st of September 2012. We had to create some interviews about political things toward societies at Wonokoyo Village. We had choose walking rather than waiting travello which was used to accommodate us to our destinations. And as teenagers, There were some moments which already been "documented" as far before we went to finish our jobs. Here ya go ! Check 'em out ! :D Boys never feel guilty Girls never be the same  as boy -.-a Aji seems unidentified man by seeing his behavior toward Galih :D Nice Picture ! Love it ! :D Couple of girls (ambiguation) \-.-/ We were possessed to be "Boy Band" Trio Science Fiver's girls. Nice Smile ! ^.^ Bustomi's smile attract me to blow him. LOL :D Most free laugh i ever been seen :) Joevandi's ducky...

secuil kisah anak SMA

Disiang ini, saat ini, kumenatap cakrawala biru dari sepasang jendela kamar b III 4, terpapar jelas keelokan bumi tlogowaru, dengan beberapa bangunan (cukup) tinggi, dan tentunya, sebuah trademark kebanggaan SMA Negeri 10 Malang, Mercusuar. Siang ini cukup bersahabat. Angin berhembus melalui jendela dan menyegarkan pikiranku. Bebas, dan lepas, seakan tak peduli dengan realita kejam yang menghampiri. Ya, beberapa saat lagi aku (dan teman-temanku) harus mengakhiri, sebuah ukiran indah selama 3 tahun masa putih abu-abu. Masa SMA, masa penuh cerita, canda, tangis, dan tawa, katanya.                 Tak lupa sekilas kuperkenalkan diriku, Pangestu Soekarno Utomo. Kelas X-1, XI dan XII IPA 5. Aku datang dari kota kecil di ujung perbatasan sebelah barat, antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, Magetan. Saat ini kutelah menyelesaikan ujian nasional, yang artinya secara teknis, aku sudah menyelesaikan pendidikan formal jenja...

I've been searching a lot. And Google didn't answer my Question

Simple Question : Doesn't Life Exist Once I asked my father What does life means Gently, he said Life is on your google Ask him All of things are provided there Then I went to my room I plugged my modem And started to browse  Google Then I typed “What Does Life Actually Means” A lot of answers were shown A lot of possibilities of life had been told I didn’t choose I didn’t recognize even one answer That is suitable for me Then I came back to my father I asked him, once again What does life actually means Gently he said Google won’t know Your surroundings wouldn't tell Life doesn’t exist outside your body Life does exist in your body That's why you're breathing Eating, hating, dating and loving Your mind Your Soul Just like a poem