Disiang ini, saat ini, kumenatap cakrawala biru dari
sepasang jendela kamar b III 4, terpapar jelas keelokan bumi tlogowaru, dengan
beberapa bangunan (cukup) tinggi, dan tentunya, sebuah trademark kebanggaan SMA
Negeri 10 Malang, Mercusuar. Siang ini cukup bersahabat. Angin berhembus
melalui jendela dan menyegarkan pikiranku. Bebas, dan lepas, seakan tak peduli
dengan realita kejam yang menghampiri. Ya, beberapa saat lagi aku (dan
teman-temanku) harus mengakhiri, sebuah ukiran indah selama 3 tahun masa putih
abu-abu. Masa SMA, masa penuh cerita, canda, tangis, dan tawa, katanya.
Tak
lupa sekilas kuperkenalkan diriku, Pangestu Soekarno Utomo. Kelas X-1, XI dan
XII IPA 5. Aku datang dari kota kecil di ujung perbatasan sebelah barat, antara
Jawa Timur dan Jawa Tengah, Magetan. Saat ini kutelah menyelesaikan ujian
nasional, yang artinya secara teknis, aku sudah menyelesaikan pendidikan formal
jenjang SMA. Mungkin cukup sekian perkenalanku, karna aku tak akan menceritakan
diriku, melainkan teman-temanku, dan kisah-kisah luar biasa yang kudapat selama
menjadi siswa, baik di asrama maupun di sekolah. Kuharap kau tak berkeberatan
berbagi waktu denganku, untuk membagi kisah yang kumiliki ini.
Semula
berawal dari pengumuman via media cetak dan internet, mengenai sebuah program
beasiswa yang ditawarkan oleh salah satu Sekolah Menengah Atas di kota Malang. Aku
dan beberapa teman-temanku, sekitar 57 orang tertarik untuk mengikuti program
beasiswa tersebut. Namun apa daya, setelah seleksi aplikasi tahap pertama,
hanya 6 orang dari Magetan yang berhak untuk mengikuti tes tahap II yang
diselenggarakan di Malang selama 3 hari. Setelah melalui rangkaian tes akademik
dan wawancara, serta focus group discussion, akhirnya terpilihlah 150 siswa
dari seluruh Jawa Timur yang berhak menimba ilmu di SMAN 10 Malang.
Minggu
pertama merupakan awal yang cukup baik, dan menyenangkan bagi kami untuk saling
berkenalan dan memahami satu sama lain. Masa Orientasi Siswa (MOS) pun menjadi
saat-saat menyenangkan karena kami mendapat pembekalan untuk hidup bersama satu
sama lain, baik di Asrama atau Sekolah, selama tiga tahun kedepannya. Oiya,
kami juga selalu diingatkan dan diberi motivasi agar kami memiliki keinginan kuat
untuk memajukan Indonesia di masa yang akan datang, menjadi pemimpin masa
depan, itulah semboyan sekolah kami, sekaligus semboyan hidup kami.
Hidup
bersama dengan orang baru, keluarga baru, memang tidak seindah dan semudah yang
kami bayangkan. Tak jarang seringkali terjadi perselisihan yang tak dapat kami
hindari. Sikap sombong, cuek, atau bahkan menang sendiri bukanlah hal yang
tidak wajar bagi kami. Tak heran, sempat tidak sedikit dari kami yang merasa
minder, atau bahkan tidak merasa bahwa sikap kami seringkali menjatuhkan teman
kami sendiri. Kami sering manja dan menentang kakak kelas kami sendiri. Keluhan
demi keluhan akan tugas sekolah pun menjadi sasaran empuk, sikap bawel dan
manja, yang sangat kentara yang masih kami bawa dari daerah asal kami
masing-masing.
Semester
pertama. Kami mendapatkan pelajaran berbasis kurikulum IGCSE (Internasional
General Certificate for Secondary Education). Kami berusaha semaksimal mungkin
untuk mendapatkan yang terbaik untuk membanggakan kedua orang tua kami.
Meskipun sedikit terkendala bahasa (sedikit lancarnya, hehe) kami akhirnya mampu
melewati ujian dengan baik. Meskipun tidak semua dari kami dapat mengikuti
ujian dari mata pelajaran yang kami inginkan, kami belajar mengenai satu hal
yang sacral dalam hidup ini. Kompetisi.
Kompetisi.
Sebuah kata yang identic dengan harfiah “saling bersaing”, “saling menjatuhkan”,
dan sebagainya. Sempat terfikir oleh saya untuk menjadi pribadi yang egois.
Terus-terusan belajar, menjauhkan kehidupan social untuk menjadi yang terbaik.
Saya sempat puas dengan apa yang saya raih. Saya hanya berfikir bagaimana
caranya untuk menjadi lebih baik daripada yang lain, namun tetap dengan cara
yang fair. Saya bahagia, namun lingkungan saya menolak. Hingga saya sadar, saya
bersekolah disini, tidak hanya untuk menuntut ilmu, melainkan membangun
hubungan dan relasi yang baik dengan saudara-saudara seperjuangan saya, bukan
hanya saat ini, namun di masa depan juga. Kami lah yang pada akhirnya harus
bahu-membahu membangun bangsa kami di masa yang akan datang. Saat itulah saya
sadar, bahwa setiap pribadi teman-teman saya disini merupakan insan yang unik
dan special. Kecerdasan seorang siswa, tidak dapat dinilai dari nilai
akademisnya, dan saya mendapat arti baru mengenai kecerdasan. Kecerdasan yang
dulunya saya identikkan dengan nilai bagus, pujian dari teman, ataupun dari
guru, merupakan arti fana yang dibangun oleh system pendidikan di negeri ini.
Kecerdasan kami bukanlah suatu mesin, karena mesin bersifat statis dan tidak
bisa berkembang dengan sendirinya. Kecerdasan kami ibarat semesta yang terus
berkembang melalui dimensi ruang dan waktu. Setiap insan memiliki bakat dan
kelebihan masing-masing, dan semuanya tidak dapat dipukul rata hanya dengan
nilai akademis.
Kelas 11. Kami mulai belajar dari kesalahan-kesalahan kami,
mulai berani bertoleransi satu dengan yang lain atas kesalahpahaman yang sering
terjadi. Kami mendapat wejangan dan nasihat dari kakak kelas kami, kami harus
beranjak dewasa. Kami mempunyai adik kelas dan harus dapat menjadi contoh yang
baik. Setelah melihat nilai rapor kami (lagi-lagi akademis) bak roler coaster
meluncur dari atas kebawah atau sebaliknya, kami dituntut untuk lebih giat dan
memaksimalkan usaha belajar kami. Meskipun mulai terbiasa dengan tugas-tugas,
keluhan demi keluhan merupakan lagu wajib nasional yang kami kumandangkan
setiap hari…. (bersambung)
Comments
Post a Comment