Senin, 23 Maret 2002
Senin. Hari yang kebanyakan orang bilang, terutama anak sekolah, sebagai hari awal penderitaan tak berujung selama 6 hari kedepan. Buku pelajaran berat seperti ipa dan ips membuat tas ini seperti memiliki gaya gravitasi lebih. Setelah disuruh ibu mandi, pun aku masih mengantuk, tak ayal ku kembali ke atas kasurku yang empuk, kembali berselubung selimut tebal yang membuat ibuku semakin gemas terhadapku.
“Pang, ayo segera sarapan, nanti kamu terlambat sekolah.” Kata ibu seraya merapikan buku dan barangku.
Ku hanya diam, sedikit menggerutu, tak kusahut kata-kata ibu. Pun ibu mulai lagi mengoceh seperti hari-hari biasanya.
“Pang, kamu ini ya, kerjaannya dari semalaman bermain terus, sudah malas belajar, malas ke gereja, besar nanti mau jadi apa? Lihat tuh kokomu, ko josua dan ko david, sudah pintar, rajin belajar, sering dapat juara kelas pula. Itu ada contoh yang baik kenapa tidak kamu tiru?” ucap ibu yang kesal melihatku masih bersembunyi di dalam selimut tebalku.
Aku kesal sekali tiap pagi mendengar ocehan ibu seperti ini. Membanding-bandingkan diriku dengan kakak-kakakku yang memang terkenal rajin dan pintar di kelasnya. Sedangkan aku? Ruang kepala sekolah mungkin sudah tak asing bagiku, mengingat orang tuaku seringkali dipanggil karena ulah nakalku yang melegenda.
“Iya bu, aku tau, aku tau” ucapku kesal sembari keluar dari balik selimutku.
Hari ini tak ada yang spesial. Ya, aku berangkat sekolah seperti biasa, terlambat. Setibanya di kelas, aku dimarahi dan dihukum untuk berdiri di depan kelas karena lupa mengerjakan PR dan membawa buku paket bahasa indonesia. Guruku memang terkenal galak dan kejam meskipun sikap itu hanya ditujukan terhadapku.
***
Setelah beberapa jam membosankan di kelas, akhirnya saat yang paling kutunggu tiba. Pulang sekolah. Setelah seperti biasa membuat nangis beberapa teman cewekku, aku langsung lari ke samping sekolah, tempat biasa ayahku menjemputku. Dan disaat yang tepat, ketika guruku hendak mengejarku untuk meminta pertanggung jawaban atas kelakuanku itu, aku sudah naik di motor ayahku. Dengan senang hati kulambaikan tanganku kepada guru dan teman-temanku, ya menyindir mereka karena tak bisa menangkapku untuk ulah jahilku kali ini.
Setibanya di rumah, ayah kembali meneruskan perjalanannya ke toko dan aku turun di depan rumah. Aku langsung tancap gas. Secepat kilat ku mengendap masuk ke rumah tanpa permisi, tanpa menimbulkan suara. Masuk ke kamar, melempar tasku ke atas kasur dan berganti pakaian. Kutengok kanan dan kiri, melewati ruang tamu yang sepi, tak ada orang pikirku. Dengan senang hati ku melangkah membuka pintu rumah, ingin segera keluar.
Aku menabrak seseorang. Badannya tinggi besar, aku mengenali siapa dia.
“Aduh, ko josua ini ngagetin aja.” Ucapku sedikit menahan sakit di hidungku.
“Mau kemana kamu le? Orang baru pulang sekolah kok sudah mau nyelonong pergi lagi, Mamah…” ucap sosok berbadan tegap itu dengan lantang,
“Ko! Jangan keras-keras, ngapain sih kok manggil-manggil mamah juga?” ucapku kesal sedikit memohon.
“Biarin, salahmu sendiri kemarin ngomong aneh-aneh ke mamah” ucap sosok itu tanpa ampun.
Nampaknya dia masih kesal atas ucapanku kemarin malam. Ya, aku lapor ke mamah karena kokoku yang satu ini, mendapat nilai fisika jelek yang disembunyikan di lemari bajuku. Tak sengaja aku menemukan dan langsung kulaporkan ibu. Kan jarang-jarang dia dapat nilai sebegitu jelek, jadi ya kesempatan buatku menjadi sedikit naik “pamor” di mata ibu.
“Sudahlah kak, kan hal kaya gitu juga nggak begitu sering kan, liat aku, mamah aja setiap hari marah-marah sama aku, tapi aku biasa aja.” Ucapku memberi pembelaan.
“Itu kan hobi kamu, dimarahi sama mamah. Dasar, udah males, bodo, nakal lagi” ucap kokoku kejam dan tajam.
“Ada suara apa rebut-ribut disana?” teriak seseorang dari dapur.
Kau pasti tau itu suara siapa.
“Ini lo mah, ipang mau main keluar rumah, padahal barusan pulang sekolah.” Sahut kokoku kejam.
“Wooo dasar kamu ya, tadi sekolahan nelpon rumah. Katanya kamu bikin onar lagi, dan sekarang kamu mau main, ndak tidur siang, ndak belajar, awas ya” ucap ibu sembari menghampiriku.
Telingaku dijewer.
“aduh-duh ibu sakit!” kataku sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman ibu yang kuat.
“Kamu sekarang harus tidur siang. Ndak boleh main kemana-mana. Awas sampai ibu liat lagi, kamu tidak ada di kamar.” Ucap ibu sembari meninggalkanku.
Aku melirik kebelakang. Kulihat koko josua tersenyum senang melihatku gagal kabur untuk bermain kali ini.
Tapi, ya namanya aku, ipang. Aku tak akan mau dan pernah mau untuk tidur siang. Aku hanya bermain guling-guling di kasur, menghibur diriku yang sedikit kesal karena tidak jadi main keluar bersama teman-teman kampungku.
***
Baiklah, mungkin kau bertanya-tanya, siapakah kakak-kakakku, yang setiap pagi ibu banggakan tanpa melihat perasaanku. Yang pertama adalah kakak wanitaku, namanya Shinta. Saat ini, dia sedang duduk di bangku SMA kelas 2. Aku tak begitu mengenalnya secara dekat, toh ketemu saja jarang. Dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk mengerjakan tugas di kamarnya atau pergi bersama teman. Yang aku tahu, dia pandai dalam matematika dan pernah berselisih dengan ayahku ketika memilih jurusan. Aku tahu ayah menghendaki anaknya masuk IPA, agar bisa jadi dokter katanya. Namun cece Shinta punya kemauan beda, dia malah memilihi jurusan bahasa. Buatku sih tak masalah, toh itu hidupnya, dan bukan hidupku.
Kakak ku yang kedua laki-laki. Namanya David. Dia berhasil masuk ke SMP swasta favorit, Kalam Kudus. Aku tau dia adalah seorang kakak yang baik, seringkali mengajari ku berdoa atau mengajak ke gereja. Dia pun cukup aktif dalam kegiatan pelayanan gereja, tak ayal, ibuku begitu menyayanginya. Koko david terkenal sebagai pribadi yang ramah dan baik hati, tipe anak idaman orang tua pokoknya. Ya sekali lagi jangan dibandingkan dengan diriku, aku kecil saja sudah nakal tak karuan, ya memang inilah aku.
Dan yang terakhir adalah kakakku yang kutemui sepulang sekolah tadi. Namnya Josua. Badannya tegap, kulitnya kuning langsat, dan wajahnya yang cukup rupawan, melengkapi popularitasnya sebagai anggota sekaligus kapten tim basket SMP Regina Pacis. Tak heran, banyak teman-teman perempuannya yang main ke rumah untuk sekedar menemui dia dan menanyakan PR. Iri kah aku? Sekali lagi, aku tak begitu peduli. Toh hidupku nyaman-nyaman saja selama ini, menurutku.
***
(lanjut ke part 3)
Comments
Post a Comment