Skip to main content

Tuhan seharusnya tidur, manusia yang harus bangun

Ungkapan Tuhan tidak pernah tidur nampaknya perlu ditinjau kembali. Siapa bilang Tuhan tidak pernah tidur? Kita sebagai manusia hanya bisa mengira-ngira. Tuhan tidak tidur, hanya sebatas perkiraan, karena kita menganggap Tuhan itu super sibuk. Tuhan melakukan ini, melakukan itu, untuk kita semua, seakan-akan ngga ada waktu buat Tuhan untuk beristirahat. Waduh sejahat itukah kita ngga ngasi kesempatan buat Tuhan untuk tidur? Seakan-akan Tuhan adalah "Wujud Ilahi" yang bisa kita peras, yang kita bisa minta tolong kapanpun kita mau, dalam keadaan apapun (meskipun lebih banyak dalam keadaan yang susah dan terjepit, kenyataan kebanyakan orang baru ingat Tuhan ketika dalam kondisi kesulitan). Lantas, apa bedanya Tuhan kita dengan orang suruhan atau pegawai kita yang dapat melakukan banyak hal untuk kita?

Sabar... Yang namanya perkiraan, tentu belum tentu itu yang terjadi. Perkiraan dibuat dengan menggunakan asumsi dan pendekatan yang dianggap dapat mewakili keadaan sebenarnya. Nalar atau pemikiran "Tuhan tidak pernah tidur" dibuat atas kesadaran manusia akan banyak sekali campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia yang berbeda beda satu dengan yang lainnya. Tuhan ada banyak tempat, hadir dalam berbagai dimensi ruang waktu, namun tetap bekerja dalam satu wujud. Oleh dasar kesadaran dan pemahaman tersebut, kita menyebut "Tuhan tidak pernah tidur". Yang seharusnya jika diartikan lebih lanjut, Tuhan selalu dapat menolong kita manusia kapanpun dan dimanapun, dalam kondisi apapun.

Hal ini membuat kita, manusia berharap banyak kepada Tuhan, memohon ini dan itu karena Tuhan dapat menolong kita dimanapun dan kapanpun. Namun, ego manusia membuat harapan dan permintaan menjadi kuantitas komoditas yang harus kita sampaikan, kita minta, agar diberikan atau dikerjakan oleh Tuhan. Semisal rajin beribadah agar diberikan surga oleh Tuhan, rajin beramal agar bisnis kita dilancarkan oleh Tuhan, kita sembahyang dan berdoa hanyalah untuk menyampaikan permintaan dan keinginan kita. Lantas, mari kita berfikir sejenak, apakah benar Tuhan menciptakan manusia dan segala kehidupan di dalamnya agar Dia dapat disuruh-suruh dan dimintai tolong? Apakah benar Tuhan menciptakan manusia agar diri-Nya mau direpoti? Kok sepertinya kurang kerjaan hehe

Tapi mari kita sedikit berimajinasi, dan tentu, melakukan perkiraan. Bagaimana jika Tuhan menciptakan manusia dan segala isinya lengkap dengan sistem garis waktu yang telah digariskan. Siapa tahu Tuhan sudah punya teknologi yang jauh lebih canggih dari yang bisa dibuat oleh manusia, yang bisa mengurus banyak keinginan manusia mulai dari doa minta rejeki sampai dengan doa enteng jodoh. Siapa tahu dengan teknologi itu Tuhan bisa tidur, bisa beristirahat, sambil minum teh mengamati ciptaanNya yang maha karya dan agung. Atau memang Tuhan pada dasarnnya dari awal telah membuat semesta dengan sistem yang otomatis, dengan algoritma yang beribukali lipat lebih canggih daripada Artificial Intelligence tercanggih yang bisa dibuat oleh manusia, dengan algoritma "jika manusia berusaha dan bekerja keras" maka peluang keinginan manusia akan lebih besar terkabul. Berbagai macam kemungkinan bisa saja terjadi karena kita memang tidak akan pernah tahu. Namun yang pasti, jika kita menganggap Tuhan kita tidak pernah tidur karena dapat kita mintai tolong, lantas apakah kita selama ini menyembah sistem yang kita bayangkan tadi atau Tuhan itu sendiri? Kalau memang benar maka selama ini kita menyembah sistem, bukan sosok Tuhan atau wujud Sang Ilahi itu sendiri.

Tidak ada yang salah dengan analogi Tuhan tidak pernah tidur ataupun Tuhan bisa tidur dan beristirahat, karena Dia sudah menyiapkan segala sesuatu termasuk waktu dan ruang bagi manusia. Yang salah adalah jika kita menggunakan analogi Tuhan tidak pernah tidur, bukan sebagai wujud ungkapan syukur atas kasih sayang Tuhan terhadap manusia, namun sebagai alasan bahwa kita dapat meminta tolong Tuhan memenuhi keinginan dan kebutuhan kita kapanpun. Adalah kesalahan besar jika kita hidup bukan untuk memaknai apa arti dan tujuan hidup kita yang sebenarnya, namun hanya untuk memenuhi keinginan kita dan permintaan kita kepada Tuhan. Yang seringkali membuat kita terjerumus kedalam doa atau permintaan yang bertele-tele, hingga lupa mengucap syukur atas anugerah yang paling besar: yakni hidup kita sendiri. Yang pada kenyataannya, semakin marak terjadi akhir-akhir ini. Semoga kiranya tulisan ini memberikan kita inspirasi bahwa: "tidak penting apakah Tuhan tidur atau tidak pernah tidur, yang terpenting adalah bagaimana kita mengucap syukur atas anugerah hidup kita yang seringkali kita lupakan maknanya hanya karena ego pribadi masing-masing.

Tuhan tidak tidak pernah tidur. Manusia yang harusnya bangun dari keinginan yang seringkali membutakan mata hatinya. :)


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Political Interview at Sukowoyo Village :) (PART 1)

Actually it must be nothing to do when day is Saturday except Community Services. Fortunately we were doing a strange tasks from Mr. Wid on a nice Saturday, at 1st of September 2012. We had to create some interviews about political things toward societies at Wonokoyo Village. We had choose walking rather than waiting travello which was used to accommodate us to our destinations. And as teenagers, There were some moments which already been "documented" as far before we went to finish our jobs. Here ya go ! Check 'em out ! :D Boys never feel guilty Girls never be the same  as boy -.-a Aji seems unidentified man by seeing his behavior toward Galih :D Nice Picture ! Love it ! :D Couple of girls (ambiguation) \-.-/ We were possessed to be "Boy Band" Trio Science Fiver's girls. Nice Smile ! ^.^ Bustomi's smile attract me to blow him. LOL :D Most free laugh i ever been seen :) Joevandi's ducky...

secuil kisah anak SMA

Disiang ini, saat ini, kumenatap cakrawala biru dari sepasang jendela kamar b III 4, terpapar jelas keelokan bumi tlogowaru, dengan beberapa bangunan (cukup) tinggi, dan tentunya, sebuah trademark kebanggaan SMA Negeri 10 Malang, Mercusuar. Siang ini cukup bersahabat. Angin berhembus melalui jendela dan menyegarkan pikiranku. Bebas, dan lepas, seakan tak peduli dengan realita kejam yang menghampiri. Ya, beberapa saat lagi aku (dan teman-temanku) harus mengakhiri, sebuah ukiran indah selama 3 tahun masa putih abu-abu. Masa SMA, masa penuh cerita, canda, tangis, dan tawa, katanya.                 Tak lupa sekilas kuperkenalkan diriku, Pangestu Soekarno Utomo. Kelas X-1, XI dan XII IPA 5. Aku datang dari kota kecil di ujung perbatasan sebelah barat, antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, Magetan. Saat ini kutelah menyelesaikan ujian nasional, yang artinya secara teknis, aku sudah menyelesaikan pendidikan formal jenja...

I've been searching a lot. And Google didn't answer my Question

Simple Question : Doesn't Life Exist Once I asked my father What does life means Gently, he said Life is on your google Ask him All of things are provided there Then I went to my room I plugged my modem And started to browse  Google Then I typed “What Does Life Actually Means” A lot of answers were shown A lot of possibilities of life had been told I didn’t choose I didn’t recognize even one answer That is suitable for me Then I came back to my father I asked him, once again What does life actually means Gently he said Google won’t know Your surroundings wouldn't tell Life doesn’t exist outside your body Life does exist in your body That's why you're breathing Eating, hating, dating and loving Your mind Your Soul Just like a poem