Hommes, 6 Desember 2015.
Setiap orang memiliki definisi tersendiri tentang waktu. Ada yang bilang, waktu itu abadi, ada juga yang bilang, waktu adalah uang, dan juga ada yang belum mendapatkan makna apa-apa tentang waktu (termasuk saya).
Saya adalah orang yang belum bisa menghargai waktu, saya akui itu. Masih banyak detik, menit, jam, yang terbuang percuma. Berapa banyak waktu yang sudah saya habiskan hanya untuk bermain, entah online games atau sekedar hangout sama teman, waktu untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Lucunya, meskipun saya tahu hal-hal tidak produktif yang saya lakukan alias menghambur-hamburkan waktu, saya masih belum dapat merubah kebiasaan tidak produktif tersebut.
Kembali lagi kepada perspektif tiap orang mengenai waktu. Waktu selalu bergerak maju, detik jarum jam tidak dapat berputar balik alias kembali ke masa lalu. Banyak orang memegang prinsip apa yang kamu kerjakan sekarang akan menentukan nasibmu di masa depan. Itu benar, bagi orang-orang yang sudah menemukan makna mengenai waktu.
Namun jika untukku? Apakah definisi tersebut bisa sesuai dengan kehidupanku?
Bagiku hidup hanya sekali, jalani hidup sesuai versi terbaikku. Selama apa yang aku lakukan tidak memberikan efek buruk bagi sekitarku, menurutku sah-sah saja. Hidupku hanya sekali, kutakmau menjalani hidup seperti kebanyakan orang. Kuingin memiliki cerita sendiri akan hidupku, ya seperti saat aku menulis postingan ini, mungkin kurang kerjaan. Tapi bagiku, ini adalah prosesku menemukan definisi versiku mengenai waktu.
Setiap orang memiliki definisi tersendiri tentang waktu. Ada yang bilang, waktu itu abadi, ada juga yang bilang, waktu adalah uang, dan juga ada yang belum mendapatkan makna apa-apa tentang waktu (termasuk saya).
Saya adalah orang yang belum bisa menghargai waktu, saya akui itu. Masih banyak detik, menit, jam, yang terbuang percuma. Berapa banyak waktu yang sudah saya habiskan hanya untuk bermain, entah online games atau sekedar hangout sama teman, waktu untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Lucunya, meskipun saya tahu hal-hal tidak produktif yang saya lakukan alias menghambur-hamburkan waktu, saya masih belum dapat merubah kebiasaan tidak produktif tersebut.
Kembali lagi kepada perspektif tiap orang mengenai waktu. Waktu selalu bergerak maju, detik jarum jam tidak dapat berputar balik alias kembali ke masa lalu. Banyak orang memegang prinsip apa yang kamu kerjakan sekarang akan menentukan nasibmu di masa depan. Itu benar, bagi orang-orang yang sudah menemukan makna mengenai waktu.
Namun jika untukku? Apakah definisi tersebut bisa sesuai dengan kehidupanku?
Bagiku hidup hanya sekali, jalani hidup sesuai versi terbaikku. Selama apa yang aku lakukan tidak memberikan efek buruk bagi sekitarku, menurutku sah-sah saja. Hidupku hanya sekali, kutakmau menjalani hidup seperti kebanyakan orang. Kuingin memiliki cerita sendiri akan hidupku, ya seperti saat aku menulis postingan ini, mungkin kurang kerjaan. Tapi bagiku, ini adalah prosesku menemukan definisi versiku mengenai waktu.
Comments
Post a Comment