Skip to main content

Pahlawan Tanpa Ucapan Terima Kasih


                Era globalisasi di Indonesia memang bukan lagi zaman koloni mendesingkan peluru serta bubuk mesiu. Musuh yang kita hadapi kini bukan lagi Belanda yang dulu pernah kita hadapi secara kasat mata. Sang Dwi Tunggal, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta telah memproklamirkan kemerdekaan kita. Namun, apakah benar kita sudah merdeka? Apakah benar kemerdekaan itu telah dirasakan secara nyata oleh seluruh warga Indonesia? Tentu saja belum. Kita tidak boleh lengah, sedikit bersela musuh sudah di depan mata. Kemiskinan, kebodohan, serta krisis moral-lah yang menjadi musuh utama bagi kita. Pengaruh Globalisasi menjadi pemicu setiap pergesekkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan nilai luhur bangsa kita. Dan dari gesekkan itulah akan menimbulkan api, dan api itulah yang akan membakar jiwa kebangsaan kita hangus dan remuk tak bersisa. Maka tak salah kiranya jika Ki Hadjar Dewantara kini mungkin saja bersedih lantaran jiwa “Als ik een Nederlander was” yang pernah ditujukan kepada para kolonial kini telah merekat-erat pada pemuda Indonesia, dimana Pancasila sudah bukan lagi harga mati bagi pemuda kita. Pancasila hanyalah sebatas pengganjal pintu ataupun penghias manis gudang-gudang gelap. Pancasila sudah bukan lagi zaman kita. Hal tersebutlah yang saat ini mewarnai jalan pikiran generasi muda kita. Sebuah ancaman kasat mata yang datang dari dalam diri kita sendiri. Kini kita mengerti arti mengapa Ir. Soekarno pernah mengucapkan kalimat ini, Perdjuangankoe lebih moedah karena mengoesir pendjadjah, tapi perdjoeanganmoe akan lebih soelit karena melawan bangsamoe sendiri”. Kalimat yang sudah sekian lama menjadi misteri bagi kita semua, kian tergenapi dan terlihat jelas sudah.
                Semua berawal dari pendidikan. Kegiatan ekonomi, sosial, politik, budaya, serta hukum dimulai dari pendidikan yang paling awal, pendidikan dasar. Banyak orang yang beranggapan bahwa pelajaran seperti matematika, ipa, ips, dan yang lainnya merupakan hal yang utama bagi seorang pemuda sebagai dasar bekal hidup di masa depan. Namun tanpa disadari (juga tanpa disesali), kebanyakan orang lupa akan satu hal yang dasar dan mendasar dalam kehidupan mereka: pendidikan moral. Seakan seperti tertawa di dalam air, manusia memandang rendah dan enteng nilai dari suatu pendidikan moral. Mereka percaya bahwa moral bukanlah penentu kesejahteraan manusia. Maka berkembanglah paradigm “Joejoer Ajoer” yang berarti bahwa orang jujur akan mendapatkan banyak masalah dalam kehidupannya. Menarik untuk diselidiki, paradigm tersebut bukanlah isapan jempol belaka. Fakta Survey Universitas Bentley, Britania Raya, membuktikan bahwa 73% orang di dunia ini adalah orang cerdas. Namun tidak kurang dari 4% diantara mereka adalah orang yang benar-benar jujur. Bagaimana dengan 69% yang lain? Ya, lingkaran merekalah yang disebut sebagai orang besar tanpa moral. Parahnya, hal inilah yang kini sedang menjadi epidemi pada masyarakat Indonesia. Nilai-nilai pancasila telah luntur sehingga paradigma yang benar adalah salah dan yang salah adalah benar mendarah daging dalam kehidupan kita sehari-hari. Sudah banyak koruptor yang tertangkap basah dan ditayangkan di televisi merupakan sebuah prestasi, namun jumlah tersebut kalah mutlak apabila dibandingan dengan sejumlah koruptor yang belum tertangkap dan masih menghirup nafas (picik) segar (baca: bebas). Apakah itu yang disebut bahwa Bangsa Indonesia sudah seutuhnya merdeka? Malahan kita sendiri lupa akan diri kita sendiri. Kita sudah dimakan (hampir) habis oleh diri kita sendiri. Kita tidak (belum bisa) peduli dengan pendidikan moral yang benar, lantas bagaimana kita dapat menghargai pancasila luhur kita? Kita belum mampu untuk sekedar berkaca pada diri kita. Bahkan kaca pun belum punya! “Coekoep menjesalkan dan coekoep boeat disesali. Sampai kapan kita maoe teroes seperti ini. Berlama-lama dalam kobangan soemoer jang dalam. Djangan takoet, wahai bangkit ajo pemoeda bangsakoe” Ir. Soekarno.
                Kini kita semua mengerti, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Garuda masih tertidur dalam dimensi non waktu non ruang dan non uang. Terkurung dalam dimensi abstraksisme tanpa adanya satupun kesadaran dari setiap insan untuk berpacu dengan waktu. Keringat boleh kering soedah namuoen semangat tak pernah padam. Setidaknya itulah yang pernah dikatakan oleh Sang Proklamator, Ir. Soekarno. Beliau yakin bahwa kita masih memiliki harapan, masih memiliki kemauan. Dimana ada kemauan serta harapan, niscaya jalan berduri kaca berlapis bara bukanlah suatu masalah bagi kita. Ya, kawan janganlah lupa, kita masih memiliki seorang pahlawan. Maaf, banyak pahlawan maksudnya. Para pahlawan yang kata kebanyakan orang tak tertera tanda jasa di dadanya. Para pahlawan yang saat ini masih berjuang hanya untuk sekedar menjadi pegawai tetap dengan upah layak. Mereka yang saat ini lebih banyak dituduh bersalah oleh kebanyakan orang ketika memberi “ilmu kasih sayang” kepada anak buahnya. Alangkah tragisnya apabila melihat nasib para pahlawan kita harus mendekam di balik jeruji penjara karena kedapatan “mencubit” siswanya. Sungguh-sungguh tidak logis dan masuk dalam nalar mengingat dahulu pahlawan di penjara karena melawan penjajah hingga mereka diasingkan. Sebegitu mudahnya kita tak sadarkan diri bahwa diri kita-lah yang sebenarnya adalah penjajah? Apakah akibat terlalu 350 tahun dijajah sehingga ingin merasakan menjajah? Apa yang ada di benak kita jika kita mengetahui bahwa kita menjajah diri kita sendiri. Kita melawan diri kita sendiri. Siapakah yang akan menang? Tentu tidak ada. Semua pihak dirugikan. Termasuk pahlawan kita. Guru-guru kita yang senantiasa berlapang dada dalam memberikan ilmu yang bermanfaat, terkadang (dan juga sering) tak kita hargai. Merekalah yang saat ini sedang berusaha dan menderita untuk mengingatkan engkau hai para kaum muda Indonesia! Apakah krisis moral kita sebegitu parah sehingga mata kita sendiri dibutakan oleh tajamnya zaman? Tak sadarkah kita? Ketika kita mengeluh tentang metode pengajarannya, bersungut akan banyaknya tugas yang diberikan kepada kita, bahkan  mencela mereka ketika mereka berusaha menasehati dan mengingatkan kita? Sesungguhnya, hati mereka terlalu suci untuk dinodai, terlalu tebal untuk ditembus pedang lapis baja, dan terlalu kuat untuk dikeroposkan tulang-tulang putihnya. Memang sulit untuk memahami semua ini. Dan semua ini butuh waktu.
                Berbicara tentang waktu, waktu yang terus berjalan dan tak dapat kembali diputar. Jasa para pahlawan memang sudah harga mati bagi kita. Namun semua itu tak lantas kita dapat mengernyitkan dahi dan berbahagia atas apa yang kita dapatkan. Apa yang Guru harapkan mungkin tak dapat terwujudkan. Namun mereka juga memiliki impian. Impian dimana para pemuda bersatu padu. Satu hati. Satu tujuan. Tanpa pamrih. Tanpa memandang siapa aku dan siapa dirimu. Bersatu padu. Membangun negeri penuh cinta kasih dan damai. Lantas apakah anda masih terdiam di tempat anda membaca? Saya masih termenung dalam tulisan saya, hanyut dalam cerita seorang guru...

“Saya tidak mungkin sesukses ini. Saya masih belum percaya. Lalu  pelan -pelan saya merebahkan diri di kasur lembut nan empuk. Segala memori pahit manis hidup berjalan mundur bak sebuah film yang amat sangat panjang. Seakan tak percaya, kulihat dosen saya sedang berdiskusi dengan saya. Saya berfikir, “Wah beliaulah yang sangat berjasa bagi saya.” Seperti mesin waktu, Film tersebut masih belum berhenti. Menampakkan masa muda saya dengan baju khas putih abu-abu, dengan seorang guru sedang memarahi saya. Saya berkata dalam hati,”beliau sangat hebat, mampu mendidikku sedemikian rupa hingga aku bisa masuk di universitas yang aku inginkan”. Sekali lagi, film tersebut masih belum berhenti. Kulihat lagi seorang wanita paruh baya sedang memarahiku karena aku menggoda temanku. “Wah ternyata guru SMP ku ini orangnya sangat peduli padaku”. Film tersebut sempat terhenti untuk beberapa saat. Kemudian aku kembali melihatnya lagi, terus berjalan tepat hingga masa SDku. Aku melihat pemandangan yang tak lazim. Aku ternyata ngompol di kelas. Dengan sabar seorang wanita muda itu mengambil kain dan membersihkan kotoranku. “Betapa hebatnya dia mempengaruhi hidupku saat ini.” Hingga pada akhirnya aku bertemu dengan guru TKku. Beliau menangis seorang diri karena merasa gajinya tidak cukup untuk menghidupi anak dan istrinya di rumah. Sedangkan aku mengamati diriku sedang berlarian senang tanpa menghiraukan orang yang ada di sekitarku. Namun ketika film ini telah usai. Aku menyesal ada satu hal yang kulewatkan dari mereka. Ya aku mengerti guruku adalah pahlawan yang paling hebat dalam hidupku. Namun aku lupa berterimakasih kepada mereka. Kini sirna sudah semua keinginanku untuk mengungkapkan rasa terimakasihku. Aku sudah berada dalam pemakamanku dan bersiap untuk dilepas menuju bumi.
-Thomas Alfa Edison-

Namun hal tersebutlah yang membuat guru kita spesial. Mereka sungguh unik dan berjasa bagi kita. Oleh karena itu tak heran kita lupa berterimakasih. Oleh karena itu, marilah kita berterima kasih setelah kita “menerima-kasih” dari mereka. Guruku adalah Pahlawanku, pahlawan tanpa tanda jasa dan tanda  ucapan terima kasih (baca: tanda jasa).
“bahkan hanya untuk membalas jasa dengan ucapan “Terima Kasih” pun ternyata masih sangat sulit untuk dilakukan. Sebuah Ironi Tanpa Arti”
-Penulis-
come on! SISA PARAGRAF SELANJUTNYA

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Political Interview at Sukowoyo Village :) (PART 1)

Actually it must be nothing to do when day is Saturday except Community Services. Fortunately we were doing a strange tasks from Mr. Wid on a nice Saturday, at 1st of September 2012. We had to create some interviews about political things toward societies at Wonokoyo Village. We had choose walking rather than waiting travello which was used to accommodate us to our destinations. And as teenagers, There were some moments which already been "documented" as far before we went to finish our jobs. Here ya go ! Check 'em out ! :D Boys never feel guilty Girls never be the same  as boy -.-a Aji seems unidentified man by seeing his behavior toward Galih :D Nice Picture ! Love it ! :D Couple of girls (ambiguation) \-.-/ We were possessed to be "Boy Band" Trio Science Fiver's girls. Nice Smile ! ^.^ Bustomi's smile attract me to blow him. LOL :D Most free laugh i ever been seen :) Joevandi's ducky...

secuil kisah anak SMA

Disiang ini, saat ini, kumenatap cakrawala biru dari sepasang jendela kamar b III 4, terpapar jelas keelokan bumi tlogowaru, dengan beberapa bangunan (cukup) tinggi, dan tentunya, sebuah trademark kebanggaan SMA Negeri 10 Malang, Mercusuar. Siang ini cukup bersahabat. Angin berhembus melalui jendela dan menyegarkan pikiranku. Bebas, dan lepas, seakan tak peduli dengan realita kejam yang menghampiri. Ya, beberapa saat lagi aku (dan teman-temanku) harus mengakhiri, sebuah ukiran indah selama 3 tahun masa putih abu-abu. Masa SMA, masa penuh cerita, canda, tangis, dan tawa, katanya.                 Tak lupa sekilas kuperkenalkan diriku, Pangestu Soekarno Utomo. Kelas X-1, XI dan XII IPA 5. Aku datang dari kota kecil di ujung perbatasan sebelah barat, antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, Magetan. Saat ini kutelah menyelesaikan ujian nasional, yang artinya secara teknis, aku sudah menyelesaikan pendidikan formal jenja...

I've been searching a lot. And Google didn't answer my Question

Simple Question : Doesn't Life Exist Once I asked my father What does life means Gently, he said Life is on your google Ask him All of things are provided there Then I went to my room I plugged my modem And started to browse  Google Then I typed “What Does Life Actually Means” A lot of answers were shown A lot of possibilities of life had been told I didn’t choose I didn’t recognize even one answer That is suitable for me Then I came back to my father I asked him, once again What does life actually means Gently he said Google won’t know Your surroundings wouldn't tell Life doesn’t exist outside your body Life does exist in your body That's why you're breathing Eating, hating, dating and loving Your mind Your Soul Just like a poem